The Israelites and the Cow: From the Bible to the Qur’an
The Israelites and the Cow: From the Bible to the Qur’an
Holger Michael Zellentin, seorang sarjana Jerman di bidang studi agama dan studi Al-Quran dan late antiquity, dan profesor agama dan studi Yahudi di Universitas Eberhard Karls di Tübingen, Jerman, menjadi narasumber di Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga pada 24 Februari 2026. Acara ini berlangsung di ruang sidang Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam lantai 2 pukul 14.00 - 18.00 WIB. Acara dibuka oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Prof. Dr. H. Robby Habiba Abror, S.Ag., M.Hum. dan ditutup dengan buka puasa bersama. Moderator acara ini adalah Dr. Phil. Muammar Zayn Qadafi, M.Hum.
Presentasi “The Israelites and the Cow: From the Bible to the Qur’an” oleh Holger Zellentin berangkat dari satu fokus: bagaimana memahami kisah sapi dalam Al-Baqarah (QS 2:67–73) dalam konteks tradisi Yahudi dan Kristen pada masa Late Antiquity. Bagi Zellentin, kisah ini bukan cerita lepas, melainkan bagian dari percakapan tekstual yang lebih luas.
Ia menunjukkan bahwa ada dua teks Taurat yang sangat relevan. Pertama, Book of Numbers 19 tentang sapi merah yang dibakar untuk ritual pemurnian dari kenajisan akibat kematian. Kedua, Book of Deuteronomy 21 tentang anak sapi betina yang lehernya dipatahkan ketika terjadi pembunuhan tanpa diketahui pelakunya.
Dua teks ini sama-sama berbicara tentang sapi dan kematian, tetapi dalam kerangka hukum yang berbeda: satu tentang kesucian ritual, satu tentang tanggung jawab sosial atas darah yang tertumpah.
Menurut Zellentin, QS 2 menggabungkan unsur dari keduanya. Dari Bilangan 19 muncul ciri teknis: sapi tanpa cacat dan tidak pernah dipakai bekerja. Dari Ulangan 21 muncul konteks pembunuhan misterius. Namun Qur’an tidak mempertahankan fungsi ritualnya. Ia tidak berbicara tentang abu untuk pemurnian, juga tidak tentang pematahan leher di lembah. Sebaliknya, kisah itu diarahkan pada pengungkapan pembunuh dan pembuktian kebangkitan.
Bagian dialog antara Musa dan Bani Israil juga mendapat perhatian khusus. Mereka terus meminta rincian tambahan: umur sapi, warna, kondisi fisik.
Perintah yang awalnya sederhana menjadi rumit. Zellentin membaca pola ini sebagai sindiran terhadap kecenderungan legalistik dalam tradisi rabinik, seperti yang berkembang dalam Mishnah. Fokus kritiknya bukan pada hukum Taurat itu sendiri, melainkan pada sikap yang memperumit perintah ilahi.
Selain itu, Zellentin mengingatkan bahwa teks tentang sapi merah juga memiliki sejarah tafsir dalam Kekristenan. Dalam tradisi patristik, misalnya pada Cyril of Alexandria, sapi merah dibaca sebagai simbol Kristus dan darah penebusan. Artinya, pada masa Late Antiquity, teks tentang sapi sudah dibebani makna teologis yang kuat dalam diskursus Kristen. Qur’an masuk ke dalam ruang makna itu, tetapi tidak mengikuti arah kristologis tersebut.
Perbedaan warna menjadi detail yang menarik. Taurat menyebut merah; Qur’an menyebut kuning cerah. Dalam pembacaan Zellentin, ini bisa dipahami sebagai bentuk diferensiasi. Qur’an tidak menekankan simbol darah atau penebusan, tetapi tetap mempertahankan struktur hewan yang tanpa cacat dan tidak pernah dipakai kerja. Detailnya mirip, tetapi orientasi teologinya berbeda.
Akhir kisah dalam QS 2 memperjelas pergeseran ini. Ketika bagian dari sapi dipukulkan kepada mayat dan orang itu hidup kembali, fokusnya bukan lagi ritual atau penebusan komunal, melainkan demonstrasi kuasa Allah atas kematian. Kisah sapi menjadi argumen tentang kebangkitan dan pengungkapan kebenaran tersembunyi.
Kesimpulan Zellentin adalah bahwa QS 2 menunjukkan partisipasi Qur’an dalam budaya tafsir bersama pada abad ke-7. Ia mengenal tradisi Yahudi dan Kristen, mengambil unsur-unsurnya, lalu menata ulang maknanya.
Kisah yang sama—tentang sapi dan kematian—berubah fungsi ketika berpindah dari Taurat ke Qur’an. Di tangan Qur’an, ia menjadi narasi teologis tentang kekuasaan Allah dan tanggung jawab moral manusia.
Di samping itu, ada juga beberapa pembicara dari Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam dan dari luar UIN Sunan Kalijaga yang mempresentasikan materi terkait Alquran dan Late Antiquity.