Diskusi Diskusi “Interreligious Context of Qur’an and Its Interpretation?” bersama Harvard University
Diskusi Diskusi “Interreligious Context of Qur’an and Its Interpretation?” bersama Harvard University
Laboratorium Studi Al-Qur’an dan Hadis (LSQH) yang juga berada di bawah Prodi S2 IAT Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga kembali menggelar diskusi pada Senin, 10 Agustus 2026. Kali ini, LSQH menghadirkan Annas Rolli Muchlisin, alumni Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Kalijaga angkatan 2014 yang kini tengah menempuh studi doktoral di Divinity School, Harvard University. Sebelum melanjutkan studi di Harvard, Annas terlebih dahulu menempuh pendidikan magister di University of Toronto, Kanada, di bawah bimbingan Walid A. Saleh, kemudian melanjutkan studi di Hamad Bin Khalifa University, Qatar. Dalam diskusi bertajuk “Interreligious Context of Qur’an and Its Interpretation?”, Annas berbagi pengalaman akademiknya sekaligus memperkenalkan model pendekatan studi Al-Qur’an yang ia temui dalam lingkungan akademik Amerika Serikat.
Berangkat dari pengalamannya berpindah dari lingkungan studi Islam di Indonesia menuju Harvard, Annas menjelaskan bahwa salah satu hal yang menarik dalam studi Al-Qur’an di sana adalah posisinya yang diletakkan dan berkelindan dengan disiplin Religious Studies. Al-Qur’an dipelajari bersama dengan tradisi dan teks keagamaan lainnya, terutama Yahudi dan Kristen. Pendekatan semacam ini penting karena Al-Qur’an tidak muncul dalam ruang kosong. Ia hadir dalam lingkungan Late Antiquity yang telah dipenuhi berbagai tradisi keagamaan, narasi kenabian, dan perdebatan teologis.
Salah satu hal yang ditekankan Annas adalah pentingnya memahami tradisi agama lain untuk membaca Al-Qur’an secara lebih utuh. Ia mencontohkan bagaimana penggambaran tokoh-tokoh keagamaan dapat mengalami perkembangan dan penekanan yang berbeda dalam tradisi yang berbeda. Dalam konteks Al-Qur’an, pemahaman terhadap tradisi Yahudi dan Kristen kiranya dapat membantu peneliti melihat bagaimana Al-Qur’an berdialog dan berinteraksi dengan narasi yang telah dikenal sebelumnya. Dengan begitu, membaca Al-Qur’an secara lintas agama tidak berarti mengurangi posisi dan kesakralan Al-Qur’an. Justru model pendekatan tersebut membantu peneliti Al-Qur’an memahami konteks historis dan intelektual tempat di mana Al-Qur’an muncul dan berbicara.
Aplikasi pendekatan tersebut terlihat ketika Annas membahas kisah para nabi dalam Al-Qur’an dan tradisi sebelumnya. Ia menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak sekadar mengulang cerita yang telah ada, tetapi kerap memberikan penekanan dan artikulasi teologis yang berbeda. Kisah Nabi Zakaria, misalnya, dapat dibaca melalui perbandingan dengan narasi dalam Injil Lukas. Perbedaan cara kedua tradisi menggambarkan ketidakmampuan Zakaria berbicara menunjukkan bahwa satu motif naratif dapat memperoleh fungsi dan makna teologis yang berbeda. Bagi Annas, perbandingan semacam ini membuka pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar mencari asal-usul sebuah cerita, yaitu bagaimana Al-Qur’an membentuk kembali narasi yang telah beredar dalam lingkungan keagamaan pada masanya.
Annas juga mengajak peserta melihat bagaimana teks-teks agama sebelumnya dapat digunakan secara produktif dalam tradisi tafsir Islam. Ia menyinggung kecenderungan sejumlah mufasir modern, seperti Muhammad Rashid Rida dan Muhammad al-Tahir ibn Ashur, yang menggunakan dan merujuk langsung pada teks-teks Alkitab sebagai bahan pembanding. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara Al-Qur’an dan tradisi Yahudi-Kristen tidak selalu berlangsung dalam bentuk polemik. Dalam sejarah penafsiran, tradisi sebelumnya juga dapat menjadi sumber komparasi untuk menguji, memperjelas, dan memperkaya pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
Pengalaman studi Al-Qur’an di Harvard yang dibagikan Annas, memperlihatkan bagaimana studi Al-Qur’an berkembang dalam dialog yang lebih luas dengan sejarah agama, studi kitab suci, dan sejarah intelektual. Bagi mahasiswa studi Al-Qur’an, pendekatan tersebut dapat membuka wawasan dan menawarkan cara pandang yang lebih terbuka terhadap teks dan konteks. Selain melalui karya-karya tafsir dan ulumul Qur’an, Al-Qur’an juga dapat dipahami melalui dialog dan interaksi dengan berbagai disiplin dan tradisi keilmuan yang membantu menjelaskan lingkungan historis kemunculannya.
Melalui diskusi tersebut, LSQH mengajak mahasiswa dan peneliti Al-Qur’an untuk memperluas horizon keilmuannya, termasuk mengenai tradisi Yahudi dan Kristen. Pemahaman terhadap tradisi Yahudi dan Kristen memberikan perangkat akademik untuk membaca lingkungan historis dan intelektual yang melingkupi Al-Qur’an secara lebih utuh, dan bukan sekadar untuk melakukan komparasi teologis antar agama. Sebagaimana pengalaman dari Annas, bahwa semakin luas seorang peneliti memahami konteks dan tradisi yang berdialog dengan Al-Qur’an, semakin terbuka pula kemungkinan untuk membaca kitab suci ini secara lebih kritis, kontekstual, dan mendalam.