Workshop Akreditasi ACQUIN untuk Menuju Kelas Internasional

Hari ini publik membaca pernyataan Presiden Prabowo yang ingin kampus kelas dunia seperti Universitas Oxford dan Universitas Cambridge membuka cabang di Indonesia. Sebuah sinyal keras bahwa pendidikan tinggi Indonesia sedang didorong naik kelas. Tidak lagi cukup lokal, tidak lagi nyaman di kandang sendiri. Kita sedang diminta siap bersaing di level global.

Di saat yang sama, di sudut kampus UIN Sunan Kalijaga, ada kerja yang jauh dari sorotan kamera. Tanggal 19–20 Januari ini, sejak pagi hingga hampir jam 10 malam, tim Program Studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir duduk bersama, menumpuk dokumen, berdiskusi, berdebat sehat, dan menimbang setiap kalimat dalam Self Evaluation Report (SER) untuk akreditasi internasional ACQUIN. Tidak ada panggung. Yang ada hanya keseriusan. Acara ini dibuka oleh Rektor UIN Sunan Kalijaga,Prof. Noorhaidi Hasan S.Ag., M.A., M.Phil., Ph.D, dan bertempat di Hotel Platinum Adisucipto Maguwoharjo Depok Sleman Yogyakarta.

Akreditasi internasional memang tidak lahir dari seremoni, tetapi dari kerja sunyi seperti ini. ACQUIN, lembaga penjaminan mutu berbasis Uni Eropa, tidak menilai kampus dari slogan, tetapi dari kejujuran akademik. Kurikulum dibedah, kualitas dosen diuji, budaya riset diperiksa, internasionalisasi ditanya, bahkan keberlanjutan prodi ikut dipertimbangkan. Semua harus bisa dipertanggungjawabkan.

Bagi Prodi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, proses ini bukan sekadar mengejar stempel internasional. Ini adalah ikhtiar menempatkan kajian Al-Qur’an dari Yogyakarta dalam percakapan dunia. Bahwa tafsir tidak berhenti di ruang kelas lokal, tetapi mampu berdialog dengan isu global, kemanusiaan, multikulturalisme, dan tantangan zaman.

Keuntungan terbesarnya tentu untuk mahasiswa. Akreditasi ACQUIN memberi jaminan bahwa proses belajar mereka diakui secara internasional. Ijazah tidak lagi hanya dibaca dalam konteks nasional, tetapi memiliki daya tawar global. Peluang studi lanjut ke luar negeri, program joint degree, pertukaran akademik, hingga kepercayaan lembaga internasional menjadi lebih terbuka.

Lebih jauh lagi, standar ACQUIN mendorong pengalaman belajar yang lebih bermakna. Mahasiswa tidak hanya dituntut paham teks, tetapi dilatih berpikir kritis, metodologis, dan etis. Tafsir Al-Qur’an dipelajari sebagai ilmu yang hidup, bukan sekadar warisan yang dibekukan. Inilah bekal penting untuk dunia yang semakin kompleks.

Jika suatu hari Universitas Oxford dan Universitas Cambridge benar-benar hadir di Indonesia, maka kampus dan prodi dalam negeri tidak boleh hanya menjadi penonton. Kerja panjang menyusun Self Evaluation Report hingga larut malam ini adalah bagian dari ikhtiar itu. Ikhtiar agar kajian Al-Qur’an dari UIN Sunan Kalijaga berdiri sejajar, dihormati, dan diakui dunia. Bukan karena ikut arus globalisasi, tetapi karena mutu keilmuan Islam memang layak berada di panggung global.