Mahasiswa S2 IAT UIN Sunan Kalijaga Presentasikan Kajian Kanonisasi Sunan Ibnu Majah dalam MUTUN dan Annual Meeting ASILHA 2026
Mahasiswa S2 IAT UIN Sunan Kalijaga Presentasikan Kajian Kanonisasi Sunan Ibnu Majah dalam MUTUN dan Annual Meeting ASILHA 2026
Jombang — Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (S2 IAT), Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Samsul Bahri, mempresentasikan hasil penelitiannya dalam kegiatan Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) dan Annual Meeting Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) 2026 di Ma'had Aly Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang Jawa Timur. Presentasi dilaksanakan dalam sesi paralel (parallel session) pada 5 Oktober 2026, pukul 13.00–15.00.
Dalam forum akademik tersebut, Samsul Bahri mempresentasikan artikel berjudul “Kedudukan Kitab Sunan Ibnu Majah dalam Kutub al-Sittah; Antara Otoritas, Kritik Ulama Hadis dan Implikasinya bagi Studi Hadis di Pesantren.” Penelitian ini mengkaji proses penerimaan Sunan Ibnu Majah sebagai salah satu dari enam kitab hadis kanonik (Kutub al-Sittah), termasuk pertimbangan ilmiah yang melatarbelakangi kedudukannya serta implikasinya bagi pendidikan hadis di pesantren.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa kedudukan Sunan Ibnu Majah dalam Kutub al-Sittah terbentuk melalui proses kanonisasi yang berlangsung secara bertahap. Penerimaan kitab ini tidak semata-mata didasarkan pada kualitas hadis yang termuat di dalamnya, tetapi juga berkaitan dengan keberadaan hadis-hadis zawā’id, yaitu riwayat tambahan yang tidak tercantum dalam lima kitab hadis sebelumnya. Keberadaan riwayat-riwayat tersebut memberikan nilai komplementer bagi kajian hadis.
Di sisi lain, Sunan Ibnu Majah memuat riwayat dengan kualitas yang beragam, mulai dari sahih hingga sangat lemah (ḍa‘īf jiddan). Keragaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembahasan mengenai otoritas kitab dan kritik ulama hadis. Meskipun terdapat kritik serta perbedaan pendapat di kalangan ulama, penerimaan Sunan Ibnu Majah sebagai bagian dari Kutub al-Sittah tetap bertahan dalam tradisi keilmuan hadis.
Temuan ini menegaskan bahwa status suatu kitab sebagai karya kanonik tidak berarti seluruh hadis yang termuat di dalamnya otomatis berstatus sahih. Otoritas kitab dan penilaian terhadap kualitas setiap riwayat merupakan dua persoalan yang perlu dibedakan dalam studi hadis. Oleh karena itu, kajian terhadap kitab-kitab hadis kanonik tetap memerlukan perhatian terhadap kritik sanad dan matan serta pertimbangan ulama hadis yang melatarbelakangi penerimaan suatu karya.
Penelitian Samsul Bahri juga menyoroti relevansi persoalan tersebut bagi pendidikan hadis di pesantren. Pemahaman mengenai proses kanonisasi dan kritik ulama hadis dinilai penting untuk membangun tradisi pembelajaran yang menghormati khazanah keilmuan Islam sekaligus mengembangkan sikap kritis dan proporsional dalam menilai riwayat.
Dalam konteks pendidikan pesantren, pendekatan tersebut dapat mendorong santri untuk memahami bahwa penerimaan terhadap kitab-kitab hadis kanonik tidak meniadakan ruang evaluasi ilmiah terhadap riwayat di dalamnya. Santri juga diharapkan lebih terbuka terhadap perbedaan pendapat ulama selama didasarkan pada argumentasi dan pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Keikutsertaan Samsul Bahri dalam MUTUN dan Annual Meeting ASILHA 2026 menjadi ruang diseminasi hasil penelitian mahasiswa S2 IAT sekaligus kesempatan untuk berdialog dengan komunitas akademik yang menekuni studi hadis dan khazanah literatur Islam klasik. Presentasi ini juga memperlihatkan relevansi penelitian hadis bagi pengembangan metode pembelajaran di lembaga pendidikan Islam, khususnya pesantren.
Melalui partisipasi mahasiswa dalam forum ilmiah seperti ini, S2 IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta terus mendorong pengembangan tradisi akademik yang menghubungkan kajian literatur hadis klasik, kritik ilmiah, dan persoalan pendidikan Islam kontemporer.