Mahasiswa S2 IAT UIN Sunan Kalijaga, Qhoirin Anisa, Presentasikan Kajian Representasi Hadis dalam Film Cinta Riyadus Solihin di MUTUN dan Annual Meeting ASILHA 2026

Jombang — Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (S2 IAT), Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Qhoirin Anisa, mempresentasikan hasil penelitiannya dalam kegiatan Muktamar Turats Nabawi (MUTUN) dan Annual Meeting Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) 2026 yang diselenggarakan di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari, Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Presentasi berlangsung dalam Parallel Session I pada Senin, 5 Oktober 2026, pukul 13.00–15.00 WIB.

Dalam forum akademik tersebut, Qhoirin Anisa mempresentasikan artikel berjudul “Kitab Riyāḍus Ṣāliḥīn sebagai Sumber Narasi: Representasi Hadis dalam Film Cinta Riyadus Solihin.” Penelitian ini mengkaji bagaimana hadis-hadis yang bersumber dari kitab Riyāḍ al-Ṣāliḥīn direpresentasikan dalam film, baik melalui penyampaian teks secara eksplisit maupun melalui dialog, tindakan tokoh, konflik, perkembangan alur cerita, dan unsur visual.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh perkembangan penggunaan hadis dalam media audiovisual. Hadis tidak hanya hadir sebagai kutipan atau pembacaan teks keagamaan, tetapi juga dapat menjadi bagian dari konstruksi cerita yang membentuk karakter, menggerakkan konflik, dan menyampaikan pesan moral kepada penonton. Karena itu, penelitian ini berupaya memahami bagaimana hadis ditransformasikan dari teks normatif menjadi narasi film serta bagaimana transformasi tersebut memengaruhi pemaknaan hadis.

Untuk menjawab persoalan tersebut, Qhoirin menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis film dan perspektif teori encoding-decoding Stuart Hall. Data penelitian dikumpulkan melalui pengamatan film secara berulang, dokumentasi berupa transkripsi dialog dan tangkapan layar adegan, serta studi kepustakaan. Sumber primer penelitian meliputi film Cinta Riyadus Solihin dan kitab Riyāḍ al-Ṣāliḥīn, sedangkan sumber sekundernya mencakup Syarḥ Riyāḍ al-Ṣāliḥīn dan literatur tentang teori representasi serta encoding-decoding.

Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi representasi hadis secara eksplisit dan implisit, kemudian membandingkannya dengan kandungan hadis serta penjelasannya dalam kitab syarah. Pendekatan ini memungkinkan penelitian tidak hanya mengidentifikasi hadis yang muncul dalam film, tetapi juga menelaah cara pesan keagamaan dikonstruksikan melalui unsur sinematik dan naratif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi hadis dalam film Cinta Riyadus Solihin mencakup empat tema utama, yaitu adab makan, berlemah lembut kepada perempuan dan perempuan salehah, hubungan sosial, serta kesabaran. Representasi eksplisit ditemukan melalui pembacaan hadis dan dialog antartokoh. Sementara itu, representasi implisit dibangun melalui tindakan tokoh, sorotan kamera, interaksi sosial, konflik, dan perkembangan cerita.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa hadis dalam film tidak hanya berfungsi sebagai teks keagamaan, tetapi juga menjadi bagian dari konstruksi narasi. Nilai-nilai hadis disampaikan melalui perkembangan karakter dan peristiwa yang dialami tokoh, sehingga pesan keagamaan hadir dalam bentuk yang lebih kontekstual dan dekat dengan pengalaman penonton.

Melalui teori encoding-decoding Stuart Hall, penelitian ini menemukan dua kecenderungan pembacaan terhadap representasi hadis. Pertama, dominant-hegemonic reading ditemukan pada representasi hadis tentang kesabaran dan hubungan sosial. Pada kedua tema tersebut, makna yang dibangun dalam film cenderung selaras dengan kandungan normatif yang dijelaskan dalam Syarḥ Riyāḍ al-Ṣāliḥīn.

Kedua, negotiated reading ditemukan pada representasi hadis tentang adab makan, berlemah lembut kepada perempuan, dan perempuan salehah. Dalam tema-tema tersebut, pesan hadis mengalami penyesuaian konteks dan dramatisasi untuk memenuhi kebutuhan cerita. Proses ini memperlihatkan adanya negosiasi antara pesan normatif hadis dan cara film membangun narasi audiovisual.

Secara keseluruhan, penelitian Qhoirin Anisa menyimpulkan bahwa transformasi hadis ke dalam film tidak serta-merta menghilangkan fungsi normatifnya. Sebaliknya, transformasi tersebut menambahkan fungsi naratif dan komunikatif. Hadis dapat berperan dalam membentuk karakter, mengembangkan konflik, menggerakkan alur cerita, dan menyampaikan nilai-nilai keagamaan melalui medium populer.

Penelitian ini sekaligus menegaskan pentingnya mengkaji hadis dalam media populer dengan memperhatikan dua aspek yang saling berkaitan, yaitu kandungan teks hadis dan cara teks tersebut direpresentasikan dalam konteks audiovisual. Dengan demikian, pemahaman terhadap pesan hadis dalam film tidak cukup hanya bertumpu pada teks sumber, tetapi juga perlu mempertimbangkan proses konstruksi dan pemaknaan yang berlangsung melalui medium film.

Keikutsertaan Qhoirin Anisa dalam MUTUN dan Annual Meeting ASILHA 2026 menjadi bagian dari diseminasi hasil penelitian mahasiswa S2 IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus menunjukkan relevansi studi hadis dalam kajian media dan budaya populer. Penelitian ini membuka ruang dialog antara studi hadis, analisis film, dan teori komunikasi, serta memperluas perspektif mengenai bagaimana khazanah hadis dihadirkan dan dimaknai dalam kehidupan masyarakat kontemporer.

Melalui partisipasi mahasiswa dalam forum ilmiah ini, S2 IAT UIN Sunan Kalijaga terus mendorong pengembangan kajian Al-Qur’an dan hadis yang interdisipliner, kritis, dan responsif terhadap perkembangan media serta dinamika keberagamaan masyarakat.