Astro-Tafsir Field Study 2026: Mahasiswa S2 IAT Ikuti Observasi Hilal di Pos Observasi Bulan Syekh Bela Belu

Sebanyak 26 peserta dari Program Studi Magister Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (S2 IAT) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta mengikuti kegiatan observasi hilal dalam rangkaian Astro-Tafsir Field Study 2026 pada Minggu, 17 Mei 2026 di Pos Observasi Bulan Syekh Bela Belu. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bagian dari praktik lapangan untuk memahami implementasi ilmu falak, rukyatul hilal, dan integrasi kajian tafsir dengan astronomi secara langsung.

Kegiatan observasi dimulai dengan arahan teknis dari tim pengamat terkait metode rukyatul hilal dan penggunaan perangkat teleskop. Setelah itu, para peserta melakukan pengamatan hilal bersama tim observasi di lokasi pengamatan bulan. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung mengenai proses observasi hilal yang selama ini dipelajari dalam teori ilmu falak dan tafsir ayat-ayat kauniyah di ruang perkuliahan.

Dalam sesi wawancara lapangan, peserta mewawancarai Budiarta , S.Si., S.Stat., M.DM selaku pejabat dan Koordinator Observasi di Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Yogyakarta. Ia menjelaskan bahwa pemantauan hilal dilakukan di Pos Observasi Bulan Syekh Bela Belu sebagai bagian dari pengamatan nasional rukyatul hilal yang dilaksanakan serentak di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Budiarta, hilal pada hari itu tidak dapat terlihat secara visual karena kondisi cuaca mendung dan tertutup awan di ufuk barat. Meskipun demikian, hasil perhitungan astronomi menunjukkan bahwa posisi hilal telah memenuhi kriteria Mabim untuk penentuan awal bulan Hijriah. Ia menyebutkan bahwa tinggi hilal berada pada kisaran 4 hingga 5 derajat, sedangkan elongasi mencapai sekitar 9 derajat. Nilai tersebut telah melampaui batas minimum kriteria Mabim, yaitu tinggi hilal lebih dari 3 derajat dan elongasi lebih dari 6,4 derajat.

Dalam keterangannya, Budiarta juga menjelaskan bahwa Mabim merupakan kesepakatan bersama antara Malaysia, Brunei, dan Indonesia dalam menentukan awal bulan Hijriah. Berdasarkan hasil pengamatan dan perhitungan tersebut, tim observasi menyatakan bahwa secara hisab posisi hilal telah memenuhi syarat masuknya bulan baru untuk keesokan harinya. Ia menambahkan bahwa hasil rukyatul hilal dari 37 titik pengamatan di Indonesia selanjutnya akan dilaporkan dalam sidang isbat Kementerian Agama yang dilaksanakan pada malam hari untuk menentukan penetapan resmi awal bulan Hijriah.

Selain melakukan wawancara dengan tim observasi BMKG, peserta juga berdialog dengan Dr. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum., selaku Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam keterangannya, beliau menegaskan pentingnya sinergi antara hisab, rukyat, dan perkembangan sains modern dalam tradisi keilmuan Islam kontemporer. Menurutnya, observasi hilal tidak hanya menjadi praktik keagamaan, tetapi juga bagian dari pengembangan tradisi akademik Islam yang mengintegrasikan aspek syariat dan ilmu pengetahuan.

Kegiatan observasi hilal ini memberikan pengalaman akademik yang lebih aplikatif bagi mahasiswa dalam memahami hubungan antara studi Al-Qur’an, ilmu falak, dan astronomi. Selain menjadi ruang praktik ilmiah, kegiatan tersebut juga memperkuat wawasan interdisipliner mahasiswa melalui interaksi langsung dengan praktisi observasi dan pemangku kebijakan di bidang keagamaan dan astronomi.